Halo teman-teman dimana pun kalian berada, hmm sapaan yang khas banget dari blog ini ya hehe. Di tahun 2020 ini, di tengah masa pandemi dan puncak kesedihan hidup saya, saya tidak sengaja melihat kembali isi tulisan-tulisan saya dari beberapa tahun yang lalu, tepatnya tahun 2014 dan 2013 dimana saat itu masa dimana saya sedang bercita-cita menjadi seorang penulis dan blogger handal yang seiring waktu tergerus berbagai alasan kehidupan yang terjadi di hidup saya. Ya, mas hardworker yang dulu beneran hardworker sekarang lagi bener-bener loyo dan tertekan sama berbagai aspek kehidupan di hidupnya. Saat ini saya sedang menjalani perkuliahan di salah satu Universitas Negeri terbesar di Jawa Tengah dengan semester yang sudah diujung tanduk yaitu semester 13. Hari-hari saya diisi dengan rasa tertekan, sedih, kecewa, takut, cemas dan berbagai perasaan negatif lainnya. Tidak ada hal yang menyenangkan bagi saya, terutama ketika saya mengetik tulisan ini, semua terasa hambar, membosankan, tidak mengubah kegalauan dan tekanan dalam hati serta pikiran saya. Beberapa waktu yang lalu saya genap berusia 24 tahun, dan pada saat akan menyambut hari ulang tahun saya itu, saya merasa sangat ketakutan dan tidak bersyukur. Saya justru berulang kali ingin usia saya tidak genap 24 tahun alias segera dipanggil Yang Maha Kuasa saja, yah.. itu bukan hal yang baik ya teman-teman, tapi itulah yang benar-benar saya rasakan.
Saya merasa sudah keluar dari jalur idealnya seorang manusia berumur 24 tahun... Kuliah belum selesai, malah masih sangat terbeban dengan kondisi mental yang down dan susah untuk bangkit, belum punya penghasilan tetap seperti teman-teman seangkatan saya, belum punya skill yang bisa dibanggakan dan dikomersilkan, semuanya terasa seperti masih butuh disuapin orang tua dan diajarin ini itu. Nah, orang tua juga lah yang menjadi alasan kehidupan saya menjadi seperti sekarang ini. Saya seorang anak broken home yang sudah dititipkan ke kakek dan neneknya sejak umur 3 bulan (bayi), karena pertengkaran rumah tangga yang hebat dan berbuah perpisahan. Mungkin mendengar kata perpisahan atau perceraian tidak begitu menakutkan dimana kita bisa lihat contoh beberapa keluarga broken home yang masih sungguh bertanggungjawab mendidik dan membesarkan anak-anaknya. Lain halnya dengan saya, dimana kedua orangtua saya benar-benar lepas tangan dan memilih untuk membentuk keluarga baru lalu melupakan saya beserta tanggung jawabnya. Sehingga secara finansial dan moral pun saya tidak mendapatkan dari kedua orangtua saya, bayangkan betapa sakitnya yang saya rasakan. Ya... hal itu yang menyebabkan saya menjadi tidak fokus kuliah karena harus bekerja ini dan itu untuk memenuhi kebutuhan hidup dan perkuliahan sejak semester 6. Saya bekerja paruh waktu menjadi driver ojek online, membuka jasa desain logo dan poster, menjadi bendahara dan sekretaris di salah satu komisi di kantor Gereja. Semua saya lakukan dengan terpontang-panting, saya benar-benar merasa kewalahan dan depresi dengan semuanya.
Sampai berada di masa ini, dimana saya sudah tidak bekerja lagi, karena beruntung ada salah satu keluarga saya yang membantu biaya hidup saya saat ini supaya saya bisa fokus menyelesaikan kuliah saya yang sudah diujung tanduk. Dulu saya memprediksi semua akan mudah apabila fokus saya tidak terbagi dengan hal yang lain, namun rupanya saya salah, ternyata saya pun masih diliputi banyak masalah dan tekanan dalam hati dan pikiran saya. Saya sudah mencoba ke psikiater, psikolog, dan semuanya berujung kembali hancurnya lagi kekuatan mental saya dalam menghadapi permasalahan hidup saya. Banyak orang disekitar saya yang tau hal ini dan iba terhadap saya, tapi mereka pun tetap tidak dapat merasakan hancur leburnya hati saya mau bagaimanapun caranya. Sehingga mereka ya hanya bisa memotivasi, memberikan nasihat, dan banyak hal yang sifatnya hanya sebatas kata. Tentu saya juga harus tetap berterima kasih, karena itu satu-satunya hal yang bisa mereka berikan kepada saya. Tapi... saya.. tetap saja masih berada di jurang yang dalam nan sepi, duduk diam termenung tak bisa meraih apa pun untuk keluar dari jurang tersebut. Sekalinya ada tali yang terulur, tali itu tidak sekuat itu membawa saya untuk mencapai ke atas, dimana saya bisa berdiri dan masuk kembali ke jalur ideal orang-orang seusia saya. Yah.. bersyukur mungkin memang harus tetap bersyukur, tapi tetap saja hal itu sangat sulit saya lakukan saat ini, karena rasanya semua tidak adil, mengapa saya harus terlahir dari orang tua yang sangat tidak bertanggungjawab, mengapa saya tidak bisa hidup enak seperti teman-teman saya yang serba diberi fasilitas yang menunjang perkuliahan dan bakatnya, sehingga mereka bisa jalan melenggang dengan santai sampai memakai toga dan berfoto dengan ceria bersama sanak keluarga dan para sahabatnya. "Jangan iri hati terhadap kondisi orang lain, kita tidak pernah tahu apa yang sebenernya terjadi dibalik itu semua" Mungkin itu salah satu kata-kata yang teman-teman pembaca ingin sampaikan kepada saya setelah membaca kalimat keluhan dan perbandingan diri saya sebelumnya hehehe... Ya memang saya tetap tidak boleh iri dan saya tidak pernah tahu juga dibalik semua yang kelihatan enak dan nyaman itu, tapi tetap saja itu curahan perasaan saya yang paling jujur.
Lantas... HARUSKAH SAYA MENYERAH? Ingin sekali rasanya menyerah, tapi tidak mungkin, saya harus tetap ingat bahwa hidup ini adalah sebuah anugerah dari Yang Maha Kuasa. Meski pikiran dan hati tertekan, setidaknya saya tidak gila sampai tidak bisa berpikir secara logis dan rasional. Meski lidah sudah bosan terhadap semua jenis makanan, setidaknya saya masih bisa memilih mau makan makanan kesukaan saya dibandingkan mereka yang kelaparan dan tidak bisa makan saat ini. Meski sulit tidur setiap malam, setidaknya saya masih punya kamar kos yang nyaman untuk berlindung dari dinginnya malam dan membaringkan tubuh dengan nyaman dibandingkan mereka yang tidak punya tempat bernaung. Meski kesulitan mengerjakan skripsi setidaknya saya masih punya kesempatan untuk merasakan bangku pendidikan tinggi, dibandingkan dengan mereka yang sudah sejak kecil putus sekolah karena ketiadaan biaya. Ya itulah, secara tidak langsung sebenarnya saya akhirnya bersyukur, walaupun rasanya berat mau mengakui bahwa itu rasa syukur karena saya sedang mengeluh habis-habisan. Tapi memang hanya itu metode penyembuhan atau tameng yang setidaknya saya miliki saat ini untuk menangkis setiap serangan pikiran negatif dan kekecewaan masa lalu. Semoga teman-teman dimanapun berada juga bisa selalu berjuang dan tidak berhenti untuk menjalani hidup ini sampai kehendaNya-lah yang akhirnya menjemput kita.
Keep Alive and Always Be Grateful
Salam Inspimotiv